LB121 - Jakarta - Walaupun sudah jatuh berkali kali, namun dia tetap mampu meraih gelar juara di tahun 2017.
Siapa lagi kalau bukan Marc Marquez.
Keberanian Marquez dalam mengambil resiko itu membuat sang rival, Jorge Lorenzo salut padanya.
Meskipun sudah mengalami 27 kecelakaan, namun Marquez masih mampu mempertahankan gelarnya.
jumlah itu 10 lebih banyak daripada musim musim sebelum Marquez dan hanya dilampaui oleh rookie Sam Lowes.
Akan tetapi, ia seakan sudah tahu betul kapan waktunya dia bisa terjatuh dan tidak.
Pasalnya saat di balapan dalam 18 seri, rider Honda Repsol asal Spanyol ini hanya dua kali jatuh.
sedangkan 25 crashnya hanya terjadi saat di latihan bebas, kualifikasi atau saat warm up saja.
"Marquez adalah orang yang istimewa.
Berbeda dari pembalap lainnya.
Jauh lebih agresif, tidak taku jatuh.
Selama ini dia tidak mengalami cedera parah, jadi kepercayaan dirinya tidak banyak terkikis," ucap Lorenzo.
"Tapi memang begitulah cara dia membalap, mentalitas dia, dan juga cara dia hidup.
Selalu gas pol, selalu mendesak, bahkan saat berlatih dengan Supermoto.
Setiap pembalap mempunyai skill tersendiri, bagi dia adalah agresif dan tidak takut terjauth.
Untuk Marquez itu berhasil,"
Lorenzo juga mengatakan bahwa Marquez bukan jatuh tanpa pertimbangan.
Justru dia melakukan sebaliknya.
Menurut Lorenzo, Marquez telah memperhitungkan semuanya pada bagian lintasan yang harus dia putuskan untuk mengambil resiko besar.
"Hal bagusnya untuk Marc adalah sebelum setiap latihan dia melakukan sedikit analisa, dia mempelajari, di area mana saja dia bisa mendesak lebih kuat, mengurangi resiko cedera.
Bagian mana yang lebih baik untuk mendesak, tidak mengambil banyak resiko kecelakaan besar dan cedera parah," sambung nya.
"Jadi dia selalu mencoba untuk terus mendesak di tikungan tikungan yang lebih aman daripada di tikungan tikungan yang punya resiko lebih besar.
Untuk alasan ini, saya pikir dia biasanya tidak cedera."
Tetapi Lorenzo bukan tiper orang yang sama seperti Marquez.
Lorenzo yang telah menjuarai juara dunia MotoGP tiga kali itu, tidak akan mengambil resiko sebesar kompatriotnya itu.
"Saya selalu berpikir lebih baik untuk tidak jatuh.
Tapi juga akan lebih sulit bagi anda untuk tahu seberapa batasnya.
Jadi ada juga keuntungan dan kerugian dengan pendekatan seperti itu." tambahnya.




