LB121 - Ternyata tikus berperan sangat penting dalam percobaan medis. Mulai dari perumusan obat kanker baru hingga pengujian suplemen makanan, tikus berperan penting dalam keajaiban medis baru.
Bahkan, menurut foundation for Biomedical Research (FBR) 95% hewan laboratorium adalha tikus. Ilmuwandan eneliti bergantung pada tikus karena beberapa alasan. Salah satunya, pengerat ini kecil, mudah di simpan dan dipelihara serta bisa beradaptasi baik dengan lingkungan baru.
Hewan ini berkembang baik dengan cepat dan berumur pendek (2-3 tahun) sehingga beberapa generasi tikus dapat diamati dalam waktu singkat.
Selain itu, tikus realtif murah dan dapat dibeli dalam jumlah besar dari produsen komesial yang mengembang biakkan pengerat khusus untuk penelitian. Umumnya, tikus patuh dan hewan ini mudah ditangani peneliti, meski ada beberapa jenis sulit ditangani.
Sebagian besar tikus percobaan medis hampir identik secara genetis, kecuali jenis kelamin. Menurut National Human Genome Research Institue, hal ini membantu menyeragamkan hasil percobaan medis. Selagi syarat minimum, tikus memiliki ras sama.
Alasan lain tikus digunakan sebagai model uji medis adalah genetik mereka, karakteristik biologi dan perilakunya sangat mirip manusia, dan banyka gejala kondisi manusia dapat direplikasi pada tikus.
"Tikus merupakan mamalia yang memiliki banyak proses seperti manusia dan bisa digunakan menjawab pertanyaan banyak penelitian." kata perwakilan National Institute of Health (NIH) Office of Laboratory Welfare Jenny Haliski.
Selama dua dekade terakhir, kesamaan itu makin kuat. Kini, ilmuwan dapat mengembangkan tikus transgenik yang membawa gen mirip penyebab penyakit manusia. Tikus juga membuat penelitian efisien karena anatomi, fisiologi dan genetiknya dipahami dengan baik oleh peneliti.
Beberapa tikus SCID (severe combined immune deficiency) secara alami terlahir tanpa sistem kekebalan tubuh dan dapat menjadi model penelitian jaringan normal dan ganas manusia. Berikut contoh ganguan manusia dimana tikus deigunakan sebagai modelnya.
Hipertensi, diabetes, katarak, obesitas, kejang, masalah pernafasan, ketulisan, parkinsn, alzheimer, kanker, cystic fibrosis, HIV dan AIDS, penyakit jantung, muscular dystrophy, cedera kabel spinal.
Tikus juga digunakan untuk pengujian obat anti kecanduan yang perbotensi mengakhiri kecanduan narkoba.
Menggunakn hewan penting ini untuk pemahaman ilmiah sistem biomedis yang mengarah ke obat, terapi dan penyembuhan yang berguna ucap Haliski




