LB121 - Jakarta - Pentingnya penggunaan antibiotik untuk menghilangkan penyakit sudah umum diketahui oleh seluruh masyarakat.
Namun ada hal yang penting tentang antibiotik yang harus diketahui oleh seluruh orang.
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Dra.Maura Linda Sitanggang, Apt, PhD mengatakan bahwa antibiotik hanya digunakan untuk melawan bakteri saja, sperti penyakit thypus, disentri, gonorrhea, dan TBC.
"Antibiotik termasuk obat keras, dokter harus mendiagnosis terlebih dahulu.
Kalau penyakit karena bakteri, boleh dikasih antibiotik.
Tapi, kalau hanya penyakit batuk pilek bukan karena bakteri, itu nggak perlu antibiotik," ujarnya dalam press conference Peningkatan Pelayanan Kefarmasian dalam Pengendalian Resistensi Antimikroba di Gedung Adhyatma Kementrian Kesehatan RI pada hari Selasa (14/11/2017).
Masyarakat wajib mengetahui bahwa antibiotik harus digunakan dengan baik dan bijak.
Baik cara penggunaannya, durasi pengonsumsiannya, dan dosisnya.
"Resep dokter itu harus dipatuhi sampai habis.
Kalau dihentikan, mikrobanya belum tuntas, dan akan kembali lagi.
Harus patuh berapa lama durasinya dan berapa dosisnya," jelas wanita yang akrab disapa Linda tersebut.
Jika masyarakat mengonsumsi antibiotik dengan bebas tanpa resep dokter, maka akan memicu terjadinya resistensi antimikroba.
Mikroba yaitu kemampuan mikroorganisme atau mikroba jahat seperti bakteri ataupun virus yang meningkat dan mengalahkan kemampuan antimikroba seperti antivirus, antimalaria, dan antimikroba lainnya.
Parahnya, resistensi antimikroba bisa menyebabkan kematian.
"Antibiotik tidak untuk cadangan.
Antibiotik yang diresepkan harus dihabiskan dan tidak boleh di simpan," tutup Linda.




